Feeds:
Posts
Comments

Keputusan.

Hidup soal keputusan, dan keputusan adalah otoritasku 100%. Segalanya berawal dari pilihan apa yang diambil dan hanya aku yang menentukan apa yang kupilih dan putuskan. Setiap jam, setiap hari berbagai keputusan diambil; keputusan yang diambil dalam sesaat namun bisa berakibat kekal. Tidak ada yang dapat mempengaruhi keputusanku, bahkan Tuhan. Begitu sayangnya Dia hingga untuk yang satu ini, Dia memberikan kebebasan, walaupun Dia menjaga dan memberi arahan, nasehat dan perintah; tapi soal aku mau atau tidak itu adalah keputusanku. Continue Reading »

Kamu mengasihiKu, Cok ?

Cok, apakah engkau mengasihi Aku ? – Begitulah kira kira kalau digambarkan pertanyaan Yesus Tuhan kepadaku pagi ini, seperti yang dikatakan kepada Petrus, muridnya yang paling sok jagoan. Aneh juga terdengar pertanyaan itu; Tuhan ingin dikasihi oleh aku ?  Continue Reading »

Refleksi

Apakah wajahku mengabarkan Kristus yang penuh kesanggupan, atau mereka melihat Kristus yang masih terbaring di kubur?

Hmm, tajam sekali pertanyaan renungan pagi kali ini; sepertinya sebagian besar hidupku lebih sering menggambarkan Kristus yang masih terbaring di kubur. Wajah yang muram, semangat yang pudar, hidup yang datar, pikiran yang hanya berputar di sekitar keinginan diri sendiri atau paling jauh keluarga. Tahun tahun terakhir ini khususnya. Hidup menjadi suram dan datar ketika aku membuatnya bahwa hidup ini milikku dan Tuhan harus bertanggungjawab, tapi hari ini ternyata hidup ini adalah milik Kristus dan aku harus bertanggung jawab. Continue Reading »

Sabtu 10 Mei 2014, jam 17:00 kurang sedikit, Deni mati.  Oh, itu tadinya yang akan ku simpulkan tentang kehidupan anak ini.  Pria pemberontak yang tak tahu berterimakasih, tukang bikin susah semua orang dan penipu ulung, meregang nyawa dengan tubuh kaku, mata membelalak dengan selang bantuan pernafasan memasuki mulut yang menganga. Akhir hidup yang tragis. Itu seketika tanggapanku saat memandangi tubuhnya yang masih berdetak jantung namun tanpa nafas lagi di UGD Siloam, Simatupang sore itu.  Aku diam, tercekat, Gloria menangis tak tahu harus berbuat apa.  Aku tidak menangis. Aku hanya mengamati sebuah kejadian yang tak biasa dan sungguh fenomenal, detik detik terakhir seorang menjadi manusia lalu setelah itu hanya seonggok daging mentah.  Hidup singkat manusia yang sia sia. Tak bersisa tak bermakna.

Lalu sepersekian detik saat detak jantung menjelang terhenti, entah ada dorongan apa aku mendekatkan mulutku ke telinganya.  “Den, jangan bermusuhan dengan Yesus; Terimalah Yesus lagi menjadi Tuhanmu”. Itu saja, aku juga bingung, apa pula kata yang kukatakan. Tak ada respon darinya, aku mundur dua langkah. Dokter masih sibuk menggenjot dadanya agar detak jantung kembali lagi.  Mesin pendeteksi jantung kulihat belum datar, tapi muka para dokter terlihat datar dan tanpa harap. “Pupil matanya sudah terbalik, bu; mohon maaf kami nyatakan adik Ibu sudah meninggal”, itu kata perempuan bermantel putih kepada Gloria, yang mungkin tak percaya.  Deni mati, waktu belum tepat jam lima sore. Aku memeluk Gloria, tanpa tahu harus berbuat apa. Sedihkah aku? Aku tidak tahu. Aku masih tertegun dengan kejadian sore ini yang terasa mengguncang hidupku begitu cepat. Continue Reading »

Paris

Untuk apakah mengadakan sebuah perjalanan? Untuk melihat hal yang baru, sesuatu yang tidak biasa? Bukan. Perjalanan adalah untuk merasakan ketakutan, rasa was was, kemungkinan celaka yang menimbulkan luka, kegamangan iman apakah Tuhan sungguh ada? Kesadaran akan ketidakberdayaan, pasrah hingga akhirnya hanya perasaan “ada” saja. Ya, betapa sulitnya mencapai pemahaman kesadaran akan sesuatu yang paling penting, hanya untuk sadar bahwa yang terpenting adalah menjadi “ada” saja. “Ada” berarti sadar bahwa hidup yang sekarang dan saya berada betapa berharganya. Rutinitas kelamaan akan membunuhmu dengan perlahan, begitu kata Paolo Coelho. Karena label, benda, manusia, harta, hari kemarin, tujuan, visi, misi, keinginan, akhirnya membuat ketergantungan. Saya bukan saya lagi, saya tidak berada lagi. Mati. Continue Reading »

“Berserulah kepadaKu, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui” ( Yeremia 33:3)

Tulisan diatas sudah berulang kali aku baca dan sudah berulang kali di-sharing-kan dibeberapa kesempatan. Lalu sore ini rencananya ingin di-resharing-kan lagi di acara kumpul-kumpul seluruh keluarga Tobing yang merupakan sepupunya Gloria. Aku selalu ingat kata Amang Sitinjak, bahwa hampir tidak ada orang berubah karena “Kotbah”, jadi aku tidak akan menamainya ini sebuah Kotbah, jangan-jangan mereka akan berseru dalam hatinya, “Jangan mengkotbahiku!”, demikian sering ku dengar beberapa kali tentang orang yang sudah bosan diberitahu hal-hal yang mungkin sudah diketahuinya.  Jadi sebutlah ini Renungan.  Ajakan untuk merenung, menarik diri dari kesibukan, target, rutinitas dan kebiasaan; untuk melihat lagi kehidupan dari sudut pandang yang lain, kalau boleh memahaminya dari kacamata Tuhan Sang Pencipta kita. Continue Reading »

Latihan Melawan Waktu

Bicara soal kepala dingin, rupanya tidak semudah membicarakannya. Saya yakin dibutuhkan latihan semacam aktivitas yang menjadi kebiasaan pendahuluan, sehingga kepala dingin adalah sebuah hasil dan bukan proses.  Ini seperti rasa bahagia atau kedamaian, kita tidak bisa berdoa atau memohon memintanya tetapi kita bisa memperolehnya dengan aktivitas dan latihan latihan yang cocok dan tepat untuk memperolehnya.  Jadi mudah melihat kebiasaan seseorang dari hasilnya, jika mudah galau tentu karena rutinitas dan kebiasaan yang dilakukannya adalah aktivitas yang menciptakan keadaan galau atau mudah stress dan tidak tahan terhadap persoalan, tepatnya tidak sanggup melihat persoalan dengan obyektif dan mudah dikuasai oleh asumsi serta perasaan.   Continue Reading »